Selasa, 19 Agustus 2008

Ternyata cuma segitu....

Saya seperti sedang tidak sadar bahwa dua hari yang lalu adalah tepat 63 tahun bangsa ini menyatakan kemerdekaannya dari penjajahan. Setelah selama lebih dari 3,5 abad di perbudak oleh Belanda dan Jepang. Sungguh pembodohan yang terjadi sangat-sangat lama dan sulit untuk dimaafkan seharusnya. Kalau boleh sedikit mengumpat pada sejarah, seharusnya keadaan tersebut tidak dibiarkan menjadi berlarut-larut, jika saja rasa patriotisme dan kepahlawanan dalam diri setiap anak bangsa ini benar-benar lebih besar dibanding sikap permisif terhadap pengaruh dari pihak luar.
Disadari atau tidak, efek dari penjajahan dan pembodohan yang telah berabad-abad kita tinggalkan masih sangat berpengaruh hingga saat ini. Bilamana rasa sungkan, malu, dan kurang sejajar dengan orang lain menjadi lebih berperan dalam pengambilan keputusan dan bertindak ketimbang jalan berfikir yang rasional, sesungguhnya dalam hal ini anda masih menjadi bagian dari rantai panjang yang masih belum diketahui di mana ujungnya.
Lalu bagaimana mungkin memaknai 63 tahun kemerdekaan adalah sesuatu yang maha dahsyat dan luar biasa, jika kita sebagai anak bangsa masih saja dipusingkan dengan urusan masing-masing hingga menjadi sungkan untuk memulai bekerja sama satu dengan lainnya tanpa hanya memperhitungkan untung dan rugi nya.
Saya teringat ketika pada suatu malam sebelum hari kemerdekaan, saya sedang dalam perjalanan di jalan komplek menuju rumah. Dari dalam mobil dikejauhan saya melihat adegan seorang anak perempuan berumur sekitar 12 tahun tiba-tiba terjatuh dari motor yang sedang dikendarainya karena hilang keseimbangan. Terkejut dan mengkhawatirkan anak tersebut serta ingin menolong tapi tidak bisa karena jarak yang tidak terlalu dekat, membuat saya menjadi iba kepadanya. Dengan susah payah akhirnya motor berhasil di tegakkannya kembali. Ada sedikit penyesalan tidak bisa membantu gadis kecil tersebut. Karena saya dahulu juga pernah mengalami hal serupa ketika sedang mengendarai motor semasa kuliah. Bedanya postur tubuh saya lebih besar dari dia. Sejurus kemudian, betapa terkejutnya saya ketika mencapai lokasi kejadian ternyata terdapat segerombolan anak muda yang sedang kongkow di pinggir jalan dan cuek saja ketika melihat peristiwa tadi. Bukan nya membantu, tapi mereka hanya melihat dengan tatapan geli dan hampir tertawa menyaksikan kejadian tersebut.
Mau jadi apa mereka jika respon terhadap hal kecil yang memerlukan sedikit empati dan jiwa kepahlawanan saja mereka tidak sanggup menunjukkan. Apakah memang itu gambaran yang sedang berlangsung di tanah tercinta ini saat ini?
Tapi sepertinya makna kemerdekaan saat ini hanya menjadi suatu ritual upacara dan bermacam-macam lomba hiburan belaka. Apakah pernah ada doa dan harapan tulus yang secara spontan hadir ketika mengingat sebuah tanggal 17 di bulan Agustus? Atau hanya berupa pagelaran atau konser belaka?

Tidak ada komentar: