Yang ini bukan merupakan akronim dari "Duda Keren", tapi emang beneran buah duren. Si buah terkenal justru karena banyak kekurangannya. Mulai dari bau yang selangit, kulit keras dan penuh duri yang siap melukai siapa saja yang tidak lihai membelah duren. Kenikmatannya cuma sesaat ketika dagingnya terasa dilidah. Selepas itu, musibah yang ditimbulkan duren kembali bisa merusak pemakan dan orang-orang disekitarnya. Perut kembung sudah menjadi tredmarknya, ditaambah bau mulut sisa duren dan ketut alias gas buangan juga masih tak lepas dari kedahsyatan sang duren.
Sudah hampir dua bulan efek buruk duren bertambah lagi menurut gw. Yaitu duren mengakibatkan kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas di jalanan. Demi menunjukkan duren jagoannya, si penjual duren sampai memajang dan menumpuk mereka sekeluarga hampir ke tengah jalan yang sudah cukup padat karena mobil dan ojek. Ditambah lagi parkir motor yang asal-asalan di sepanjang etalase "sogo jongkok duren". Gw yang tiap hari pulang kerja jam 6 sore, harus mengulur waktu lebih panjang lagi untuk bisa segera sampai di rumah. Kadang-kadang gw jadi agak "dendam" sama si duren.
Walaupun gw penyuka duren dan jagoan ngebelah duren (sekarang udah pensiun karena serangan mag), tapi kalo udah begini kejadiannya jadi pengen nyumpahin duren.
Ya sudah lah duren, lama2 ngomongin lo, sepertinya sekarang gw benar-benar mencium aroma lo yang khas itu......
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar